Senin, 23 April 2012

[DIKBUD] Membaca, Perlukah Didefinisikan-Kembali?: Apakah Pendidikan Kita Berbasis Buku? (2)

 

Membaca, Perlukah Didefinisikan-Kembali?: Apakah Pendidikan Kita Berbasis Buku? (2)
Oleh Hernowo
 
http://photos-e.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash3/527471_10150787499509797_678704796_9617112_1179656203_a.jpg
 
"Setiap kali aku membuka sebuah buku, aku menguak sepetak langit. Pabila aku membaca sederetan kalimat baru, aku lebih banyak tahu dibandingkan sebelumnya. Dan segala yang kubaca membuat dunia dan diriku sendiri menjadi lebih besar dan lebih luas."
—Jostein Gaarder dan Klaus Hagerup dalam Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken
 
 
"Pak Hernowo, masyarakat kita—khususnya anak didik kita di sekolah—jelas memerlukan buku. Apalagi buku yang dapat memberikan paradigma baru terkait dengan sesuatu. Salah satu manfaat buku—kalau buku itu benar-benar dibaca lho—adalah ia akan membantu seseorang dalam membuka wawasan baru dan, kemungkinan besar, mengganti paradigma lama dengan yang baru. Paradigma baru kita perlukan karena yang lama mungkin sudah usang dan tak relevan lagi. Jadi, pendidikan berbasis buku adalah sebuah keniscayaan."
 
Seorang peserta seminar tiba-tiba saja menyela dan memberikan sebuah pandangan yang jernih. Hanya, selang beberapa waktu kemudian—setelah menyampaikan pandangannya yang jernih tentang manfaat sebuah buku—dia terdiam cukup lama. Dalam keterdiamannya itu, seakan-akan dia ingin menarik pernyataannya yang jernih dan bermanfaat itu. Lantas, dia pun tiba-tiba juga menyampaikan hal berikut ini dengan lirih, "Namun Pak Hernowo, saya ragu, apakah buku-buku yang beredar di sekolah-sekolah kita itu benar-benar dibaca oleh anak didik kita?"
 
Saya tertegun dan tentu kaget mendengar keraguan yang dimunculkannya. Apakah anak didik kita benar-benar membaca buku-buku yang digunakan oleh mereka di sekolah sebagaimana makna membaca yang disampaikan oleh Gaarder dan Hagerup: mampu mengembangkan pikiran? Atau, buku-bukui tersebut tetap dibaca oleh anak didik kita tetapi cara membacanya berbeda dengan membaca dalam makna Gaarder dan Hagerup? Bagaimana kita dapat mendeteksi kegiatan membaca anak didik kita? Apakah kita dapat mengecek, misalnya, dampak membaca yang ditimbulkan oleh kegiatan membaca anak didik kita?
 
Di era cyberspace, seperti saat ini, definisi membaca sepertinya perlu dirumuskan kembali. Membaca yang saya maksud adalah membaca teks (tulisan)—yang terdiri atas deretan kata, istilah, kalimat, dan mungkin saja bentukan-bentukan lainnya. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1991, h. 83), salah satu makna kata "membaca" dipadankan dengan "memahami". Sementara kata "membaca" sendiri, salah satunya, didefinisikan sebagai "melihat serta memahami isi dari apa yang tertulis (dengan melisankan atau hanya dalam hati)." Apakah di era sekarang, membaca (to read) cukup jika dipadankan dengan memindai (to scan)?
 
Apabila memang membaca saat ini tak lain dan tak bukan sekadar memindai, bolehkah definisi membaca di dalam KBBI direvisi menjadi cukup dikatakan sebagai "melihat dari apa yang tertulis"? Dalam definisi membaca yang baru ini, tambahan "serta memahami isi" menjadi tidak diperlukan lagi. Membaca, kemungkinan besar, memang hanya melihat dan tidak perlu memahami isi atau materi yang dibaca tersebut. Benarkah kita—terutama anak didik kita—tengah menjalankan kegiatan membaca yang demikian? Wallahu a'lam.[]
 

__._,_.___
Recent Activity:
Sekolah Bahasa Jepang Pandan College 021-2727-2511
.

__,_._,___

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar